Violina dalam Diary – Pelajaran bagi yang berpacaran

Violina dalam Diary 

Malam ini aku kembali mengingatmu. Mendesah dalam bilur napas yang tercekat. Ronamu masih sama. Dua lesung pipit dalam menyertai gurat senyum yang selalu saja kau tumpah dengan ruahnya. Apa kau ingat? Ini tempat kita pertama kali bertemu.

Doyongnya mahoni masih sama. Menggeliatnya ulat tak juga membuahkan kepompong. Angin masih mengikat bisu. Sepi menelan senja. Dan pagi tak mengubah apa-apa. Kulesatkan pandang menyapu pelataran malam. Beburung tak hinggap menyisakan pedih. Aku tersenyum mengingatmu. Katamu burung malam itu piawai merayu. Terjungkang kiri kanan mengelus bulan, tertampiaskan tak juga merasa lelah. Melihatmu, aku mulai jatuh cinta.

Malam ini aku kembali mengingatmu. Terbaluti dingin yang membekukan raga. Katamu kau ingin mengajakku ke pantai. Menelusuri pasir yang menghanyutkan kepiting. Memandang plankton yang menyinari laut. Bebinaran bintang meredup satu-satu. Ditelan awan yang kian tajam memeluk langit. Aku terhenyak. Pandangku mengabur. Mengingatmu hanya membuatku lelah.

***

Tatapan mereka penuh iba. Senyum hanya terulas begitu saja. Jatuh cinta padamu merupakan tindak konyol bagi mereka. Aku kembali merengkuh kenanganmu. Ah, di sinilah tempatku. Dalam pelukanmu, pelukan hangat walau penuh duri-duri rindu.

Kuharap kau sadar, rapuhnya kelopak kenanga tak serapuh kepercayaanku pada manusia lain. Memilih untuk jatuh cinta padamu adalah sebuah pertaruhan, pertarungan, pergulatan. Aku tercekat oleh kata-kataku sendiri: betapa picisan, namun alpa kebohongan. Kubiarkan kupu-kupu sibuk melakoni tariannya. Terik mentari tak membuatnya lelah. Sepertimu, begitu penuh gairah hidup dan tawa.

Kututup mataku sejenak. Tuhan, haruskah kuucapkan terima kasih atas pertemuanku dengannya? Atau haruskah aku menuntut keadilan dariMu atas siksaan jiwa penuh dosa? Betapa bayangan dirimu menggandeng wanita lain sangat menghantui malam-malamku, meremas jantung dan membuatku mual.

Aku tidak akan kalah. Aku membutuhkanmu seperti seorang pelukis membutuhkan kuasnya. Dari awal aku sadar, berani mencintai, maka harus berani berkorban. Kulirik kotak berwarna coklat di atas meja kerjaku. Belasan lembar surat bertumpuk, menunggu keberanian si penulis untuk mengirimkannya.

***

Kau tidak akan pernah membayangkan betapa konyolnya jemariku yang ngotot menuangkan rasa dalam kertas. Bunyi jejangkrik mengubah bising menjadi dawai yang merindu. Sesak sungguh dipenghujung malam. Ketika ingat hanya berpusar pada tentangmu.

Bagaimana kabarmu? Aku disini baik-baik saja. Merenggang napas dalam dawaian canda. Kadang-kadang kembali menunduk diam. Terjerat sunyi dalam lingkar ingatan tentangmu. Saat tanganmu jauh menggapaiku, namun hampa. Masih jelas dalam ingatanku betapa mata itu kosong. Binarnya meredup di sudut kamar. Tak lagi kutemukan cahaya disana. Redupnya mematikan rasa, hingga ngilu menjadi pilihan satu-satunya.

Kau tahu, betapa menyesalnya aku kala itu? Kujelaskan pun tampaknya kau tidak akan mengerti. Setiap malam aku tergilas oleh sesal yang memberati. Janji ke pantai tidak pernah berhasil kau penuhi. Begitu juga denganku. Ucapan itu melebur dalam tanah, terajut dalam sekat-sekat yang merapat .

***

Sudah tiga tahun sejak hari itu.

Aku masih mengusap keningmu. Buliran keringat menetes bagai hujan. Kau tahu betapa bergemuruhnya aku saat itu? Lentingan demi lentingan syahdu menelusupku jauh. Aku tidak ber-syak. Tidak sama sekali. Binar matamu yang menghilang, tanganmu yang menggapai-gapai, dan aku yang duduk disisimu. Biarlah hawa ini sunyi membungkus. Kepakan burung gereja mengusik jendela. Kicaunya mengirim doa. Pelan-pelan, kegenggam jemarimu. Mengalirkan hangat yang meretas rasa.

***

Malam ini aku kembali mengingatmu. Merindukanmu selalu memberati, tapi aneh, tak sekalipun tertepis niat untukku meleburmu dalam ingatan. Aku mungkin sudah menjadi kekasihmu. Mungkin pula aku telah menjadi istrimu. Merajut asa dalam rasa yang terlanjur dalam. Aku tidak pernah meminta apapun darimu. Tidak sekalipun. Bahkan mimpi untuk menapaki tangga mencari ridho Tuhan tak sekalipun bersumber dariku. Itu kau semua yang memulai.

Mengirim kartu pos yang kau katakan berasal dari Tuhan. Menjebakku dalam lingkar keterpesonaan yang memukau. bahkan menggiringkiu menapaki jalan yang sama denganmu. Simpang kita tak pernah berbeda, juga tak menyatu.

Apa kau tahu betapa lututku gemetar saat itu? Saat air mata menderai begitu hebatnya di pelupuk mata ibumu. Memelukku erat dengan keseluruhan sendi yang bergetar. Mataku mengerjap. Bisu dalam rerintih yang pilu.

Malam ini aku kembali mengingatmu, menghitung janji yang tidak satu pun tertepati. Jangan kau piker aku akan menangis. Tidak. Tidak sama sekali. sudah membanjir kiranya kalau aku hanya hidup dalam ratap. Toh kenyataan tidak berubah.

Pantai masih menyemburatkan buih yang memecah karang. Plankton masih merajai lautan. Dan kepiting masih mencapit dalam pasir.

Malam ini, hanya untuk malam ini, di pantai ini, di bawah pohon mahoni yang menyembunyikan komplotan ulat bulu, terjebak aku dalam ingatan tentangmu. Menerobos dan terdampar dalam lingkaran rasa yang masih mengikat kuat. Kau tahu aku mencintaimu. Kau juga tahu, aku telah memilihmu. Tapi kau juga pernah bilang, dalam malam-malam ku tertidur,

“Dia lebih mencintaiku dari kamu”

Kau tahu, kau mengatakannya ribuan kali hingga gerah rasanya.

Aku tidak lagi menangisimu, sekalipun di malam-malam aku mengingatmu, berontaknya otak hanya ingin denganmu.

***

Besok aku akan menikah. Meskipun malam ini aku masih mengingatmu, meskipun rasa yang buncahnya masih menggelayuti malam yang sunyi. Maafkan aku kekasihku, aku menyelingkuhimu malam ini.

Pria yang akan kunikahi tentunya tak kalah baik denganmu. Simpangnya juga tak berbeda denganku. Tidak perlu banyak cakap, dia memintaku menikah dengannya di pertemuan kami yang kedua. Jangan bilang ini terlalu terburu-buru. Ah, tidak. Ada sesuatu yang berhasil meyakinkanku dengannya. itu semua karena sapu tangan di saku celananya.

Kau tahu, buliran pedih yang tak kunjung surut menggenangi pelupuk mataku, akhirnya terseka olehnya. Tidak peduli betapa burukya ia, toh hanya dia yang bersedia menyeka wajahku. Dia juga yang akhirnya memenuhi janjimu mengajakku ke pantai. Seperti malam ini. Sayang sekali, tak ada burung seperti katamu dulu. Mungkinkah dia juga tersungkur mati sepertimu? Lelah merayu bulan yang tak kunjung beringsut maju.

Aku tahu ini sadis. Aku tahu ini konyol. Tolong aku sesuatu.

Sampaikan pada Tuhan, besok hari pernikahanku.

Kalau tak keberatan, sudikah dia memberimu surat izin menemuiku malam ini? Satu menit pun cukup. Karena dia hanya ingin berkenalan denganmu.

***

Violina dalam Diary #  Violina dalam Diary # Violina dalam Diary  #  Violina dalam Diary # Violina dalam Diary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.