Umpan Balik dan Umpan Maju dalam Ilmu Komunikasi

Dalam ilmu komunikasi, ada dua jenis umpan yang patut kita ketahui.

Yaitu umpan balik dan umpan maju.

Umpan balik menunjukkan realita respon atas komunikasi yang kita jalankan.

Sedang umpan maju menjukkan pada pesan yang akan kita sampaikan.

Untuk lebih detailnya, simak uraian di bawah.

Umpan Balik

Yaitu informasi yang dikirim kembali ke sumbernya.

Umpan ini bisa berasal dari diri Anda sendiri, atau dari orang lain.

Saat memikirkan sesuatu, melamun, dan merenung, kita kadang bertanya pada diri sendiri.

Pertanyaan tersebut kemudian kita jawab.

Kadang solusi atas persoalan yang rumit dapat ditemukan melalui cara ini.

Respon batin terhadap pertanyaan dalam diri, dalam ilmu komunikasi, disebut dengan umpan balik.

Selain itu, umpan balik dapat kita cermati saat melakukan perbincangan.

Kita melihat bagaimana bahagianya seorang kawan saat kita menanyakan kisah masa lalu.

Umpan balik dari orang lain dapat datang dalam berbagai bentuk.

Kerutan dahi, senyuman manis di bibir, gelengan kepala, anggukan, tepukan, bahkan tamparan adalah bentuk dari umpan balik.

Semakin baik komunikasi yang kita jalankan, maka kemungkinan besar responnya pun akan baik.

Saat pengemis menjulurkan tangannya meminta belas kasihan, lalu Anda memberinya uang saku sambil tersenyum, Ia pun akan tersenyum dan berterimakasih kepada Anda.

Bayangkan jika Anda memberinya sambil membentak, mencaci maki, atau bahkan memberinya dengan kaki,  bisa jadi dia berbalik melawan Anda.

Meski ada juga pengemis yang sabar.

Umpan Maju

Umpan maju yaitu informasi tentang pesan yang akan disampaikan.

Kita seringkali menyampaikan pesan kita dengan pernyataan seperti:

Saya ingin kamu tahu…
Saya minta waktunya untuk berbicara tentang..
Apakah kamu siap mendengarkan berita ini..
Tenangkan dirimu, saya ingin berbicara…

Pesan-pesan di atas mengisyaratkan tentang pesan yang akan disampaikan.

Biasanya orang yang memberikan umpan maju memiliki pertimbangan tertentu mengapa ia memberikan pesan tersebut.

Orang yang berbaring sakit, atau orang yang jantungan tidak mungkin kita beritakan tentang kabar yang mengguncang dirinya.

Namun pada saat-saat tertentu, kita lakukan konfirmasi apakah dia siap menerima pesan ini atau tidak.

Karenanya, diperlukan empati serta kecerdasan untuk melihat situasi untuk menyampaikan pesan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.