Pengertian, Tujuan, Penyampaian & Dasar Hukum Somasi

Pengertian

Somasi adalah teguran terhadap pihak calon tergugat. Biasanya dianggap sebagai ancaman untuk membawa perkara ke pengadilan. Meski demikian, somasi dapat diartikan sebagai niatan baik pengirimnya, yaitu niat baik agar pihak lain memahami pandangan si pengirim, yang biasanya mencantumkan usulan penyelesaian sengketa kedua pihak.

Tujuan

Memberi kesempatan kepada calon tergugat untuk berbuat sesuatu / menghentikan suatu perbuatan sebagaimana tuntutan pihak penggugat.

Efektifitas

Cara ini dipakai untuk menyelesaikan sengketa sebelum perkara diajukan ke pengadilan.

Pembuat

Somasi dapat dilakukan secara kolektif dan Individu, baik oleh kuasa hukum maupun pihak yang dirugikan.

Pembuatan somasi tidak memiliki aturan baku. Pihak pengirim (pembuat) bebas menentukan rumusan isi somasi. Dengan catatan, ia harus dengan secara tegas menentukan tiga hal:

  1. pihak yang dituju harus jelas
  2. masalah yang disomasi harus dicantumkan
  3. kehendak pengirim yang harus dilakukan oleh pihak yang disomasi

Adapun mekanisme pengirimannya bisa dengan dua cara:

  1. melalui utusan yang langsung menuju kediaman pihak yang disomasi
  2. melalui jasa pengiriman (misalnya melalui jasa post).

Dasar hukum

Somasi diatur dalam pasal 1238 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer):

“Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa si berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yg ditentukan.”

Cara penyampaian

  1. Tertulis, dikirim secara tertulis kepada pihak calon tergugat
  2. Terbuka, publikasi melalui media massa.

Contoh somasi

Untuk memahami somasi lebih lanjut, simak contohnya di sini.

_________

Sumber:

Dedi Supriyadi, M.Ag., Kemahiran Hukum Teori dan Praktik, Pustaka Setia, Bandung, 2013, hlm: 129-130.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.