Pengertian Ijtihad Menurut Para Pakar Hukum Islam

  • Whatsapp
pengertian ijtihad

Pengertian Ijtihad (Arab : ijtihâd) ,- berasal dari akar kata “al-jahd wa al-juhd”. Oleh Ibn Manzûr diartikan sebagai al-wus’u, al-tâqah, al-masyaqqah (yaitu daya, kemampuan, kekuatan dan kesulitan).

Pengertian Ijtihad

Secara umum, ijtihad menurut istilah berarti:

Muat Lebih

بذل الوسع والجهـود أو الطاقة وتحمل المشقة

(“mencurahkan kemampuan dan kekuatan”, atau mencurahkan daya kekuatan dan menanggung kesulitan”).

Menurut Al-Ghazali, ijtihad adalah “mencurahkan segala kekuatan dan kemampuan dalam mengerjakan sesuatu yang sulit dan mengandung beban, seperti kalimat:

اجتهد في حمل حجر الرحاء

(Ia mencurahkan segala kekuatan dan tenaga untuk membawa batu penggilingan)

Karenanya, tidak bisa dikatakan:

اجتهد في حمل خردلة

(ia mencurahkan segala kekuatan dan tenaga untuk membawa sebiji sawi).

Membawa sebiji sawi merupakan pekerjaan yang mudah (ringan) tanpa harus mencurahkan banyak tenaga, siapa pun dapat melakukannya. Karenanya hal tersebut tidak bisa disebut ijtihad.

Pengubahan kata dari ja ha da (جهد) atau ja hi da (جهد) menjadi ij ta ha da (اجتهد) dengan cara menambahkan dua huruf, yaitu “alif” di awalnya dan “ta” antara huruf “jim” dan “ha”, mengandung enam maksud, satu di antara maksudnya yang tepat adalah untuk “mubâlagah” (مبالغة) yaitu dalam pengertian “sangat”.

Bila kata ja ha da dihubugkan dengan dua bentuk masdarnya tersebut, pengertiannya berarti “kesanggupan yang sangat” atau “kesungguhan yang sangat”.

Dari pengertian kebahasaan di atas, terlihat ada dua unsur pokok dalam ijtihad:

  1. daya atau kemampuan,
  2. obyek yang sulit dan berat.

Daya atau kemampuan di sini dapat diaplikasikan secara umum, yang meliputi daya fisik-material, mental-spiritual, dan intelektual.

Ijtihad sebagai terminologi keilmuan dalam Islam juga tidak terlepas dari dua unsur tersebut.

Mengingat kegiatan keilmuan lebih banyak bertumpu pada kegiatan intelektual, maka pengertian ijtihad lebih banyak mengacu kepada mengerahkan kemampuan intelektual dalam memecahkan berbagai kesulitan, baik yang dihadapi oleh individu maupun umat secara menyeluruh.

Bertolak dari pandangan demikian, ijtihad secara umum mengandung arti yang begitu luas, mencakup segenap curahan daya intelektual, dan bahkan spiritual dalam menghadapi suatu permasalahan yang sukar.

Oleh karena itu, upaya pengerahan kemampuan dalam berbagai lapangan ilmu, seperti kalam, falsafah, tasawuf, fiqih, dan sebagainya, merupakan suatu bentuk ijtihad, dan pelakunya disebut mujtahid.

Al-Syaukânî mengakui eksistensi ijtihad yang dilakukan oleh para ahli ilmu kalam, dan menempatkan ijtihad tersebut sebagai ijtihâd fî tahsîl al-hukm al-‘ilm (dalam mencapai ketentuan ilmu pengetahuan).

Al-Syaukânî juga melihat bahwa istilah ijtihad dapat berlaku di luar konteks hukum Islam, seperti politik, falsafah, ilmu kalam, tasawuf dan lain sebagainya. Di samping itu, terdapat istilah ijtihad dalam pengertian khusus dan spesifik, yakni ijtihad dalam hukum Islam.

Menurut al-Syaukânî, bila disebut kata “ijtihad” dalam konteks hukum Islam, maka pengertiannya tidak lagi mengacu kepada pengertian umum kata ijtihad.

Ijtihad dalam terminologi usul fikih secara khusus dan spesifik mengacu kepada upaya maksimal dalam mendapatkan ketentuan hukum syara’. Dalam hal ini, para ulama bervariasi memberikan definisinya.

Al-Syaukânî mendefinisikan:

بذل الوسع في نيل حكم شرعي عملي بطريق الاستنباط

Mencurahkan kemampuan untuk memperoleh hukum syara’ yang bersifat amali dengan cara istinbât (mengeluarkan hukum dari sumbernya melalui pemikiran dan penyelidikan)”.

Al-Amidi mendefinisikan ijtihad dengan ungkapan:

استفراغ الوسع في طلب الظن بشيئ من الاحكام الشرعية على وجه يحس من النفس العجزعن المزيد فيه

“Mencurahkan kemampuan (secara maksimal) untuk mencari hukum syara’ yang bersifat zhanni, sampa diri tidak mampu lagi untuk menambah kemampuannya”.

Definisi yang dikemukakan Al-Amidi ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan Ibn Al-Subkî, hanya di dalam definisi yang dikemukakan oleh Ibn Al-Subkî ada tambahan kata-kata “al-faqih”, sebagaimana dapat dilihat dalam difinisinya sebagai berikut:

استفراغ الفقيه الوسع لتحصيل ظن بحكم

“Pencurahan kemampuan (secara maksimal) oleh seorang faqih untuk menghasilkan hukum (syara’) yang bersifat zanni”.

Penambahan kata al-faqih dalam definisi ijtihad, menurut al-Syaukânî, merupakan keharusan, sebab pencurahan kemampuan bukan oleh seorang faqih tidak disebut ijtihad secara istilah.

Namun, menurut Yusuf Al-Qaradâwî, “ahli usul yang tidak menyebutkan kata al-faqih dalam definisinya, sebenarnya kata itu telah tersirat dalam definisinya, sebab tidak mungkin seorang yang mampu mengambil hukum dengan cara istinbât kecuali ia adalah seorang faqîh”

Menurut Abdul Wahhab Khallaf, Ijtihad Adalah sebagai berikut:

الاجتهاد في اصتلاح الاصوليين هو بذل الجهد للوصول الى الحكم الشرعي من دليل تفصيلي من الادلة الشرعية

Ijithad dalam istilah ulama ushul fiqh ialah mencurahkan segala kemampuan untuk mendapatkan hukum syara’ dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Baca juga:

Kesimpulan

Dari kutipan-kutipan di atas, ternyata bahwa ijtihad itu mempunyai dua pengertian: pengertian umum (luas), dan pengertian khusus (spesifik).

Ijtihad dalam pengertian umum (luas) adalah upaya mengerahkan segala daya dan kemampuan yang dilakukan oleh mujtahid dalam berbagai bidang ilmu, seperti ilmu kalam, falsafah, tasawuf, fikih, politik, ekonomi, sosial, budaya, bahasa, dan lain sebagainya.

Sedang ijtihad dalam pengertian khusus (spesifik) adalah mencurahkan segenap kemampuan daya pikir untuk memperoleh ketentuan hukum syara’ yang bersifat zhanni dengan cara istinbat, yakni mengeluarkan hukum dari sumbersumbernya melalui pemikiran dan penyelidikan yang mendalam.

_________

Referensi:

  • Ibn Manzûr Jamâl al-Dîn Muhammad ibn Mukarram al-Ansârî, Lisân al-Arab, (Kairo: Dâr al-Misriyah li al-Ta’lif wa al-Tarjamah, t.th), jilid IV, h. 107-109.
  • Lihat karya Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali, Al-Mustasfâ min ‘Ilm al-Usûl, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1988), cet. ke-2, juz 2, h. 350.
  • Muhammad ibn Ali ibn Muhammad Al-Syaukânî, Irsyâd al-Fuhûl ilâ Tahqîq ‘Ilm al-Usûl, (Makkah al-Mukarramah: al- Maktabah al-Tijâriyah, 1983), cet. ke-1, h. 418.
  • Saif Al-Din Abu Al-Hasan Ali ibn Muhammad Al-Amidi, Al-Ihkâm fî Usûl al-Ahkâm, (Kairo: Muassasah al-Halabi, wa syarakah, t.th), jilid IV, h. 141.
  • Tâj Al-Dîn Abd Al-Wahhab ibn Al-Subki, Jam’u al-Jawâm’i, (Kairo: Isa al-Bâbi al-Halabî wa syarakah, t.th.), jilid II, h. 379.
  • Lihat karya Abd Al-Wahhab Khallaf, ‘Ilm Usûl fiqh, h. 216

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.