Pengertian dan Macam-Macam Perbuatan Hukum Menurut KUH Perdata

Perbuatan hukum adalah setiap perbuatan manusia yang dilakukan dengan kehendak (sengaja) dan dapat menimbulkan hak dan kewajiban.

Adapun ketentuan ada tidaknya kehendak, dapat difahami pada hal-hal berikut:

  1. Adanya pernyataan kehendak secara tegas. seperti dibuatnya tulisan oleh subjek hukum, atau adanya tulisan yang dibuat oleh pejabat hukum.
  2. Subjek hukum mengucapkan kata-kata tertentu, seperti ok, ya, dan lain sebagainya.
  3. Adanya isyarat, misalnya mengangguk.

Baca juga artikel tentang:

Pembagian Perbuatan Hukum

Jika dipandang dari segi pihak, perbuatan hukum terdiri atas:

1. Perbuatan sepihak, yaitu dilakukan oleh salah satu pihak namun menimbulkan hak dan kewajiban pada pihak lain. Seperti pembuatan surat wasiat, dan pemberian hibah.

Pembahasan surat wasiat tercantum dalam KUH Perdata pasal 875: Surat wasiat atau testamen ialah sebuah akta berisi pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya terjadi setelah dia meninggal, yang dapat dicabut kembali olehnya.

Sedang pemberian hibah dimuat dalam pasal 1666 KUH Perdata: Penghibahan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang penghibah menyerahkan suatu barang secara cuma-cuma, tanpa dapat menariknya kembali, untuk kepentingan seseorang yang menerima penyerahan barang itu. Undang-undang hanya mengakui penghibahan antara orang-orang yang masih hidup.

2. Perbuatan dua pihak, dilakuan oleh kedua belah pihak yang menimbulkan hak dan kewajiban. Misalnya surat persetujuan jual beli, surat perjanjian sewa menyewa, dan lain-lain.

Adapun ketentuan jual beli telah diatur dalam KUH Perdata pasal 1457 berikut: Jual-beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu barang, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan.

Sedang surat perjanjian sewa menyewa dimuat dalam pasal 1548 KUH Perdata: “Sewa menyewa adalah suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikatkan diri untukmemberikan kenikmatan suatu barang kepada pihak yang lain selama waktu tertentu, denganpembayaran suatu harga yang disanggupi oleh pihak tersebut terakhir itu Orang dapatmenyewakan berbagai jenis barang, baik yang tetap maupun yang bergerak.”

Jika dilihat dari aspek pelakunya, perbuatan hukum dibagi lagi menjadi dua, yaitu:

  1. Perbuatan yang dilakukan oleh subjek hukum.
  2. Perbuatan yang tidak dilakukan oleh subjek hukum. Seperti jatuh tempo, kematian, kelahiran, dan kadaluarsa.

Perlu diketahui, kematian menimbulkan akibat hukum tertentu, seperti terjadinya pembagian waris, jatuhnya talak pada suami / istri yang ditinggal mati, dan lain sebagainya.

______

Referensi:

Neng Yani Nurhayani, S.H., M.H., Hukum Perdata, Bandung, Pustaka Setia, 2015, hlm: 76-78.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.