12 Kunci Pemahaman Lintas Budaya Antar Bangsa – Fabelia

Pemahaman Lintas Budaya – Dunia dengan keragamannya secara utuh merupakan bingkai adat isitiadat serupa guratan warna dalam kanvas. Beragam, unik, menarik, dan bersanding satu sama lain. Keberagaman inilah yang kemudian menjadikannya menarik untuk disimak.

Merah tidak akan bersinar jika disekitarnya hanya ada warna merah muda, merah maroon, dan merah bata. Butuh warna lain untuk menjadikannya benar-benar bersinar dan memancar. Karena itu, butuh warna kuning, hijau, biru, orange, ungu, untuk kemudian berkolaborasi menjadi pelangi. Bias-bias warna. Perbedaan yang hidup rukun saling berdampingan, yang kemudian menciptakan keindahan alam semesta.

Itu baru persoalan warna. Lantas bagaimana halnya dengan budaya?

Sebuah kepastian bahwa perkara warna tidaklah serumit perkara budaya. Persoalan manusia selalu lebih kompleks dari sekedar bias. Tapi tetap saja, persandingan tiap budaya juga akan tampak indah jika diantaranya terdapat toleransi dan keberterimaan satu sama lain. Untuk itu, pemahaman lintas budaya baik secara lokal maupun internasional diperlukan demi menjaga keselarasan hubungan tiap individu.

Pemahaman Lintas Budaya

Berikut beberapa budaya yang perlu diketahui dari negara asing yang notabenenya berbeda bangsa, bahasa dan ras dengan Indonesia:

1. Traktir-menraktir

Indonesia : Penulis sepenuhnya yakin bahwa 99% orang Indonesia suka ditraktir. Sebuah bentuk penghematan dalam kemasan keberuntungan. Saat mengajak seseorang makan siang misalnya, siapa yang mengajak maka dia yang membayar makanannya.

Negara barat : Orang barat juga senang ditraktir, tapi mereka bukanlah orang yang bisa dengan mudah ditraktir, layaknya orang Indonesia. Saat makan bersama, mereka bisa keukeuh ingin membayar makanannya sendiri.

Hal ini kemudian menjadi menarik jika kita mengorelasikan unsur agama dalam tatanan perilaku. Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, nyatanya lebih senang dengan tangan di bawah daripada tangan di atas, sementara konsep sedekah sudah sangat jelas dianjurkan bahkan ada yang sifatnya wajib dalam Islam. Orang Indonesia yang lebih suka diberi daripada memberi nyatanya tidak lebih islami daripada negara non muslim itu sendiri.

Contoh selanjutnya adalah perbadingan antara China dengan Indonesia.

Di China, ketika kamu ditraktir makan dan kamu menghabiskan makanannya, itu dianggap tidak sopan. Kenapa? Karena mereka akan berpikir bahwa apa yang mereka berikan itu kurang.

Sedangkan budaya Indonesia menganggap bahwa jika seseorang tidak menghabiskan makanan yang disuguhkan itu berarti kemungkinan makanan tersebut tidak enak (meskipun di beberapa daerah ada yang sengaja menyisakan makanannya karena takut dianggap rakus).

Khusus untuk orang Indonesia muslim yang merasa malu jika makanan di piringnya habis tandas, bukankah Rasulullah pun selalu menghabiskan makanannya hingga tandas? Lantas kenapa kita harus merasa malu?

2. Acungan jempol

Dari beberapa referensi, acungan jempol di Iran kerap diartikan sebagai salah satu satu swearing gesture paling parah. Kurang lebih maknanya sama seperti mengacungkan jari tengah di beberapa negara barat. Namun referensi lain menyebutkan bahwa acungan jempol di Iran berarti “terserah” atau “silakan lewat”.

Sementara budaya Indonesia, mengacungkan jempol berarti bagus atau suka. Sedangkan di daerah Jawa, acungan jempol juga bisa digunakan sebagai penunjuk arah.

Apapun maknanya, lebih baik menghindari penggunaan gesture yang berbeda dengan pemahaman kita daripada mengambil resiko yang bisa menimbulkan misunderstanding dan masalah.

3. Tatapan Mata

Di Malaysia, menatap orang adalah suatu kewajaran, apalagi jika orang tersebut baru pertama kali dilihat. Jadi jangan heran jika berkunjung ke suatu tempat di Malaysia dan orang-orang menoleh dan menatap kita. Itu tidak lain adalah sebuah kewajaran perilaku. Sementara itu di Kamboja, ada sebuah keyakinan bahwa setiap pertemuan didahului oleh pandangan mata pertama, namun melihat seorang adalah sesuatu yang bersifat privacy sehingga tidak diperkenankan memandang orang lain dengan penuh nafsu. Di Jepang sendiri kontak mata seringkali bukanlah hal yang penting.

Lagi bagi mereka yang hidup di dataran India. Kerlingan mata menandakan orientasi seksual. Sebaiknya berhati-hati jika ingin mengedipkan mata pada mereka.

Bergeser ke benua Amerika, beberapa suku Indian Amerika, mengajari anak-anak mereka bahwa kontak mata dengan orang yang lebih tua merupakan tanda kekurangsopanan. Namun di Amerika Serikat, orang dianjurkan untuk mengadakan kontak mata ketika berkomunikasi. Sementara orang Amerika Utara sebaliknya, mereka tidak membenarkan seseorang menatap mereka kalau mereka sedang berbicara.

Di Indonesia sendiri budaya menatap lawan bicara juga mempunyai makna yang berbeda bagi setiap daerah. Di daerah Timur Indonesia dan Batak, menatap lawan bicara menujukkan keseriusan dalam memperhatikan pembicaraan. Sementara bagi orang Jawa, memperhatikan bukan sekedar “menatap” melainkan “mendengarkan”. Ditatap secara terus-menerus saat berbicara tentunya akan menimbulkan rasa tidak enak pada pembicara, khususnya bagi orang Jawa.

Untuk persoalan ditatap atau diperhatikan di tempat umum, orang Indonesia punya persepsi yang bisa meranting menjadi beberapa pertanyaan, sebut saja prasangka atau praduga, diantaranya: 1. Mereka menatapku, apakah ada yang aneh denganku? 2. Apakah penampilanku tidak sesuai? 3. Apakah dia tidak menyukaiku? Atau malah mereka menyukaiku hingga terkesima padaku? 4. Apakah saya ada masalah dengan mereka sampai mereka menatapku seperti itu? 5. Atau apa kami pernah kenal sebelumnya? Begitu banyak pertanyaan yang bisa muncul seiring dengan makin lamanya tatapan orang-orang. Maka tidak salah jika dibuat kesimpulan, sebagian besar penduduk Indonesia suka baper alias bawa perasaan. Tatapan saja dinilai pakai rasa.

Karena perbedaan persepsi inilah, maka dalam Islam terdapat perintah untuk menundukkan pandangan pada lawan jenis. Tidak lain salah satu tujuannya adalah untuk mengantisipasi potensi negative thingking ataupun baper.

4. Jabat tangan

Di Jerman, seperti halnya di Indonesia, kaum wanita terbiasa melakukan jabat tangan seperti halnya kaum pria, , sedangkan di Amerika Serikat kaum wanita jarang berjabatan tangan. Hal sebaliknya terjadi di Muangthai, orang-orang tidak bersentuhan (berpegangan tangan dengan lawan jenis) di tempat umum.

5. Waktu

Bukan hal baru jika kita memperbincangkan perbandingan sikap antara budaya barat dan budaya Indonesia mengenai waktu. Waktu berbanding lurus dengan perkembangan suatu daerah. Itu sebuah kepastian. Di negara maju, waktu berlarian sangat cepat. Tidak ada waktu untuk basa-basi dan bekerja lamban di kota-kota besar seperti Birmingham, London, New York, dan sederet negara maju lainnya.

Sebaliknya, di negara-negara berkembang waktu melaju dengan kembang kempis.

Di Indonesia sendiri, terjadi perbedaan signifikan antara kota besar, kota agak besar, dan kota yang belum besar. Di Jakarta, orang-orang berjalan dengan sangat cepat di pagi-pagi buta, memulai aktivitas. Jalanan sudah sibuk sejak pukul 05.00. Sementara di belahan Indonesia bagian Timur, masuk kerja jam 07.30 merupakan pekerjaan orang paling rajin. Kantor-kantor di daerah terpencil baru akan ramai sekitar pukul 10.00 pagi. Fantastis bukan?

Kesenjangan penggunaan waktu. Bagaimana manusia dalam satu daerah memanfaatkan waktu seolah menjadi tolak ukur maju tidaknya sebuah peradaban. Semakin produktif manusia memanfaatkan waktu, semakin maju keberadaannya.

Dalam sebuah obrolan ringan dengan mahasiswa Birmingham University, penggambaran masa menjadi hal yang menarik. Tahun 1200-an, masa di mana orang Indonesia masih telanjang, sebuah Universitas besar sudah berdiri megah di Inggris, Cambridge University. Sebuah analogi kemudian berkembang, Jakarta masa kini adalah 100 tahun yang lalu-nya Inggris, sementara Makassar, kota terbesar di Indonesia bagian timur, adalah 15 tahun yang lalu-nya pulau Jawa. Bukan dilihat dari segi infrastruktur, lebih dari itu, dari pola pikir dan gaya belajar masyarakatnya.

6. Anggukan kepala

“Ya”, adalah kesimpulan umum bagi mereka yang menganggukkan kepala, sedangkan menggeleng menandakan “ketidaksetujuan”. Banyak negara yang telah sepakat dengan hal ini, termasuk Indonesia. Namun kita perlu lebih mengenal makna dari setiap gerakan kepala karena tidak semua negara memiliki persepsi yang sama.

Di Inggris, anggukan kepala berarti mereka mendengar apa yang kita sampaikan, tapi bukan berarti mereka setuju dengan apa yang kita katakan. Di Bulgaria, India, dan sebagian orang Arab, anggukan kepala berarti “tidak”, sementara gelengan kepala berarti “ya”.

Gerakan kepala ini sangat penting untuk diketahui mengingat pentingnya arti “Ya” dan “Tidak” bagi keberlangsungan hidup seseorang. Dalam sebuah kasus di Arab Saudi, seorang TKI dengan kasus asusila dinyatakan bersalah akibat menggelengkan kepala saat ditanya oleh hakim. Gelengan kepala yang secara budaya Indonesia berarti “tidak”, justru berarti sebaliknya di tanah Arab.

7. Menunduk saat rapat

Di banyak negara, orang yang duduk sambil menegakkan kepala di hadapan orang yang berbicara berarti memperhatikan si pembicara. Di Australia, pembicara akan menyangka pendengarnya kecapaian atau mengantuk bila melihat mereka memejamkan mata. Sebaliknya, orang Jepang yang tampak tertidur saat mengikuti persentasi, dengan mata terpejam dan kepala menunduk, sebenarnya sedang menyimak dengan sungguh-sungguh.

8. Opini/Pendapat

Dalam menyampaikan pendapat, orang Timur, khususnya Indonesia, cenderung berbelit-belit dalam hal berargumen, terkadang harus berputar-putar dulu untuk mengatakan sesuatu, padahal maksudnya/tujuannya tidak serumit yang dimaksud. Sangat berbeda dengan orang Barat, mereka langsung ke pokok masalah dan mereka tidak terbiasa basa-basi.

9. Pesta

Perayaan pesta adalah hal yang cukup menarik untuk dicermati. Di Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur, perayaan pesta khususnya pesta pernikahan bisa dilangsungkan selama berhari-hari dengan jumlah undangan yang sangat banyak, ratusan hingga ribuan undangan. Tentunya pesta semacam ini akan menghabiskan biaya yang sangat besar. Sebaliknya, orang barat sangat fleksibel dalam mempersiapkan pesta. Via telepon, fax, atau email-pun menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Jumlah undangan pun terbatas. Secara otomatis, biaya pernikahan pun tetap terkontrol.

Dalam acara berkumpul di rumah teman, pesta makan siang misalnya, sudah menjadi budaya di Indonesia bahwa siapa yang mengundang, maka dialah yang menyediakan seluruh makanannya. Hal inilah yang kemudian menjadi pertimbangan untuk mengundang teman-teman berkumpul di rumah. Sementara di barat, para tamu yang diundang untuk pesta makan siang, tidak akan datang dengan tangan kosong. Setidaknya mereka akan datang sambil membawa bahan makanan sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dalam hal ini.

10. Budaya Mandiri

Dalam sebuah kuliah Penyelesaian Konflik, seorang dosen pernah mengatakan bahwa tingkat kemandirian orang Indonesia, khususnya para wanitanyanya, adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Untuk ke toilet  saja, para perempuan biasanya akan minta ditemani oleh temannya, meskipun di toilet nanti pada akhirnya mereka harus berpisah di depan pintu. Yang diajak pun dengan senang hati menemani meskipun pada akhirnya dia akan berakhir sebagai penjaga pintu kamar mandi, dengan pertimbangan, suatu saat nanti giliran dia yang minta ditemani. Fenomena seperti ini sangat lazim terjadi.

Beda halnya dengan budaya barat di mana masing-masing orang punya urusan masing-masing sehingga sudah menjadi keharusan bahwa siapa yang butuh maka dia yang melakukan. Di Jerman, para mahasiswa tidak akan saling mengajak ke perpustakaan. Mereka akan pergi dengan sendirinya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Saat mereka diajak dan mereka merasa tidak punya kepentingan, mereka akan dengan mudah menjawab,

“Yang butuh ke perpustakaan siapa? Kalau kamu butuh, silakan pergi.”

11. Cafein dan Fresh Air

Bagi orang Amerika, kafein dan udara segar adalah dua alasan yang selalu mendapat pemakluman dalam situasi apapun. Kedua hal ini sama esensialnya dengan hak asasi manusia. Seseorang yang lagi rapat dengan atasan dan mengalami debat yang cukup rumit, bisa mengambil alasan untuk menghirup udara segar agar terhindar dari situasi yang tidak diinginkan. Sementara di Indonesia, fresh air dan cafein adalah alasan paling tidak masuk akal untuk bisa diterima.

12. Menyapa

Alaska memiliki cara menyapa yang tak kalah aneh, yaitu menempelkan ujung hidung pada lawan bicaranya. Kebiasaan ini disebut Kunik, atau biasa disebut juga dengan Eskimo Kissing, yang juga merupakan simbol dari rasa sayang. Hal yang sama juga terjadi di Sumba, NTT. Masyarakat di sana tidak melakukan cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri) seperti umumnya orang Indonesia, melainkan dengan saling menempelkan ujung hidung satu sama lain.

Sementara di Tibet, mereka menjulurkan lidah sebagai ucapan salam. Cara ini dilakukan karena sebuah tradisi untuk membuktikan bahwa orang tersebut bukanlah rainkarnasi dari raja lalim yang pernah memimpin Tibet. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, lidah raja berwarna hitam.

Sebaliknya di Indonesia, juluran lidah berarti mengejek sehingga sangat tidak disarankan untuk menjulurkan lidah kepada orang lain.

Dunia yang secara utuh terdiri dari 201-230 negara, dengan jutaan budaya yang berbeda di seluruh dunia tentunya memiliki keunikan masing-masing. Pemahaman lintas budaya sangat diperlukan sebagai informasi dasar jika ingin berbaur dengan dunia di luar kotak yang biasa kita jalani. Secara lebih luas, pemahaman lintas budaya ini tidak hanya mengacu pada adat istiadat, tata krama, atau kebiasaan yang dijalani masyarakatnya. Lebih dari itu, pemahaman lintas budaya juga mencakup bahasa dan pola pikir setiap bangsa. Tidak dipungkiri, pola pikir inilah yang kemudian akan membentuk bahasa dan budaya suatu bangsa.

I cut my finger” or “ I lost my wallet”, bukan berarti sebuah sadisme atau kebodohan dimana “aku memotong jariku” ataupun “aku menghilangkan dompetku”. Susunan gramatikal mereka yang lebih banyak menggunakan kalimat aktif diartikan oleh penulis sebagai bentuk keberanian mereka mengambil setiap tanggung jawab atas setiap kejadian yang terjadi atas mereka. Disinilah peran pola pikir dan bahasa menjalin romantisme berbahasa. Ketika “Jariku teriris” dan “dompetku hilang”.

Untuk mempertajam pemahaman lintas budaya dengan mempelajari bahasa Inggris, ada baiknya Anda mengikuti program Fabelia.

______________

Referensi:

http://belajar-komunikasi.blogspot.co.id/2010/12/perilaku-verbal-dan-non-verbal-pada.html

Mulyana Deddy. 2010. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

http://julianprananda.blogspot.co.id/2014/11/tugas-cross-culture-understanding-ccu.html

http://malesbanget.com/2013/10/perbedaan-budaya-indonesia-dengan-budaya-luar-negeri/

http://wahidjamet.blogspot.co.id/2011/03/perbedaan-budaya-barat-dengan-budaya.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.