Uraian Lengkap Macam-Macam Hukum Islam & Contohnya

  • Whatsapp
hukum islam

Macam Hukum Islam -, Hukum ini terbagi menjadi dua, yaitu taklifi dan wad’i. Hukum taklifi adalah hukum yang berupa perintah, larangan, dan pilihan yang ditujukan kepada manusia. Sedang hukum Wad’i yaitu hukum yang di dalamnya terdapat keterpautan antara suatu ketentuan dengan ketentuan yang lain.

Macam Hukum Islam

Agar Anda dapat memahami dengan baik, simak penjelasan di bawah secara seksama.

Muat Lebih

1. Hukum Wad’i

Hukum Wad’i membahas keterkaitan hukum antara satu hal dengan hal lain.

Keterkaitan ini bisa berbentuk:

  • Sebab: seperti pembagian warisan berlaku setelah wafatnya si pemilik. Dalam hal ini, wafatnya si pemilik menjadi sebab berlakunya hukum waris.
  • Syarat: seperti disyaratkannya berwudhu dalam pelaksanaan shalat. Di sini, wudhu menjadi syarat untuk melaksanakan shalat.
  • Mani’: adanya penghalang terlaksananya hukum. Seperti seorang anak yang membunuh ayahnya untuk mendapat warisan. Pembunuhan tersebut menjadi penghalang baginya, sehingga ia tidak boleh mendapat warisan.

Singkatnya, hukum Wadh’i tidak membahas amaliyah seseorang an sich, akan tetapi membicarakan keterpautan hukum pada suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Intinya, dalam hukum wad’i terdapat dua kejadian yang saling mengikat.

2. Hukum Taklifi

Hukum taklifi ini terdiri dari tiga pokok utama: yaitu perintah, larangan, dan pilihan.

Hukum Islam yang berkaitan dengan perintah terbagi menjadi dua, yaitu wajib dan sunnah. Yang berkaitan dengan larangan disebut haram dan makruh. Sedang yang berhubungan dengan pilihan disebut mubah.

Perintah

Jenis perintah ini ada yang bersifat memaksa, ada juga yang bersifat lunak. Hukum Islam yang bersifat memaksa disebut wajib, sedang yang bersifat lunak disebut sunnah.

1. Wajib

Yaitu hukum yang dalilnya mengandung perintah yang bersifat memaksa. Jika dilaksanakan maka mendapat pahala. Namun jika tidak, ia berdosa.

Hukum wajib ini dapat diuraikan dalam beberapa aspek, diantaranya:

Jika dilihat dari Aspek waktu, wajib terbagi menjadi dua:

A. Wajib Mutlak

Yaitu kewajiban yang tidak ditentukan batas waktunya. Seperti  menunaikan ibadah haji bagi yang telah mampu. Kapan saja selama hidup dapat di laksanakan.

B. Wajib Muqayyad (terbatas)

Kewajiban yang hanya dilakukan dalam waktu-waktu tertentu. Seperti berpuasa di bulan ramadhan, dan menunaikan shalat maghrib.

Wajib muqayyad ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu wajib muwassa dan wajib mudhoyyaq.

A. Wajib Muwassa’

Yaitu kewajiban yang waktunya luas. Kita dapat menjalankan ibadah kapan saja, yang terpenting masih dalam waktunya.

Seperti menunaikan ibadah shalat Isya, dapat ditunaikan di awal waktu, pertengahan malam, atau bahkan di saat menjelang fajar (Waktunya adalah sejak hilangnya mega merah hingga terbitnya fajar).

B. Wajib Mudhoyyaq

Kewajiban ini sangat dibatasi; sepenuhnya terjadi di dalam waktu yang ditentukan. Seperti kewajiban menjalankan ibadah puasa yang sepenuhnya hanya di bulan Ramadhan.

Jika dilihat dari aspek pilihan, wajib terbagi dua, yaitu:

A. Wajib Mu’ayyan

Yakni kewajiban yang telah ditentukan secara spesifik. Seseorang tidak memiliki pilihan, kecuali menunaikan apa yang telah ditetapkan. Seperti menunaikan zakat emas, dan melaksanakan shalat ashar dengan 4 rakaat.

B. Wajib Mukhayyar

Yaitu kewajiban dimana dalam pelaksanaannya seseorang dapat menentukan pilihan. Seperti kewajiban membayar denda dalam pelanggaran sumpah.

Jika seseorang melanggar sumpahnya, ia diwajibkan menunaikan salah satu dari tiga hal berikut: memerdekakan budak, memberi pangan / sandang terhadap 10 orang miskin, atau berpuasa selama 3 hari.

Dilihat dari aspek kuantitas, wajib dibagi dua, yaitu:

A. Wajib ‘Ain

Yaitu kewajiban yang dibebankan kepada masing-masing individu. Seperti melakukan shalat 5 waktu, menunaikan zakat fitrah, dll.

B. Wajib Kifayah

Yaitu kewajiban yang dibebankan kepada sekelompok orang. Jika ada seseorang menunaikan kewajiban ini, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain dalam kelompok tersebut. Seperti menunaikan shalat janazah.

Jika dilihat dari aspek ukuran, wajib terbagi lagi menjadi dua, yaitu:

A. Wajib Muqaddar

Yaitu kewajiban yang kadarnya telah dibatasi. Seperti shalat maghrib 3 rakaat, dan kewajiban menunaikan zakat fitrah yang kadar hartanya telah ditetapkan.

B. Wajib Gairu Muqaddar

Yaitu kewajiban yang kadarnya tidak dibatasi. Seperti menolong orang yang kelaparan. Seorang dapat memberikan pertolongan sebisanya.

2. Sunnah

Perintah dalam hukum ini bersifat lunak. Jika dilaksanakan maka mendapat pahala. Jika tidak, maka tidak berdosa.

Sunnah dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu:

A. Sunnah Muakkadah

Yaitu perbuatan Sunnah yang dilakukan oleh Nabi SAW secara langgeng. Seperti melaksanakan shalat Witir, shalat Rawatib dua rakaat (sebelum Subuh dan Ashar, serta setelah Dzuhur, Maghrib dan Isya).

B. Sunnah ghairu muakkadah

Disebut juga dengan sunnah biasa, yang ranahnya lebih luas. Sunnah ini tidak langgeng dilakukan NAbi SAW. Namun dianjurkan kepada segenap muslim untuk melaksanakannya. Seperti mengerjakan shalat empat rakaat sebelum Dzuhur dan sebelum Isya, menyingkirkan duri dari jalan, dan lain-lain. 

Baca juga:

Larangan

Macam hukum islam ini terbagi menjadi dua, yaitu larangan yang bersifat memaksa (haram), dan larang yang bersifat lunak (makruh).

1. Haram

Yaitu larangan yang bersifat memaksa dan tegas. Jika dilakukan maka berdosa. Namun jika tidak, maka mendapat pahala.

Ada dua jenis haram, yaitu:

A. Haram Lidzatih

Yaitu perbuatan yang sejak semula diharamkan oleh Allah. Seperti mencuri, membunuh, berzina, dan lain sebagainya.

B. Haram Ligoirih

Yaitu perbuatan yang awalnya adalah halal, namun karena diperoleh / dilakukan dengan cara haram, akhirnya perbuatan tersebut berubah menjadi haram.

Secara umum, makan roti boleh dilakukan. Namun karena diperoleh dengan cara mencuri, maka memakannya menjadi haram.

2. Makruh

Larangan di dalamnya bersifat lunak / tidak memaksa. Berpahala jika ditinggalkan. Namun bila dilakukan, maka tidak berdosa. Seperti menceraikan istri, makan hingga kenyang, dan lain-lain.

Pilihan

Disebut juga dengan mubah. Artinya boleh dilakukan, boleh juga ditinggalkan. Seperti minum dengan gelas, makan dengan piring, duduk diatas kursi, berlari, dan lain-lain.

____________

Referensi:

  1. Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Darul Fiqr, Bairut, 1908, hlm, 26 – 49.
  2. Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, Logos Publishing House, Jakarta, 1996, hlm 224.
  3. Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H. Hukum Islam, Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2015, hlm: 127-128.
  4. Mohammad Daud Ali, HukumIslam, (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 1994), cet. ke-4, h. 53.
  5. Abd Al-Wahhab Khallaf, Usûl al-Fiqh, (Kairo: Maktabah al-Da’wah al-Islâmiyah, 1968), cet. ke-8. h.198.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.