Uraian Lengkap Jenis-Jenis Hukuman dalam Islam (Uqubah)

  • Whatsapp

Jenis-jenis hukuman dalam Islam (sanksi pidana Islam) dibagi menjadi beberapa kelompok. Semua itu dilihat dari aspek nash, pertalian sanksi, kewenangan hakim, dan dari segi objek. Untuk lebih jelasnya, simak perincian berikut:

Aspek Nash

Muat Lebih

Jika dilihat dari segi nash, hukuman terbagi menjadi tiga:

1. Had

Yaitu sanksi yang ketentuan dan batasannya telah ditetapkan oleh syara (temaktub dalam al-Qur’an / Hadits). Seperti Hukuman potong tangan bagi pencuri, hukuman rajam bagi pelaku zina muhsan, dan hukuman jilid bagi penuduh zina.

2. Qisas/diyat

Yaitu sanksi setimpal sesuai dengan perbuatan si pelaku. Seperti hukuman mati bagi si pembunuh, dan melukai si pelaku yang telah melukai orang lain. Adapun diyat adalah sanksi alternatif jika Qisas tidak diterapkan.

3. Ta’zir

Yaitu sanksi yang tidak dibicarakan dalam nash. Dalam hal ini, Negara / Hakim memiliki kewenangan penuh untuk menentukan sanksinya. Seperti hukuman penjara bagi pendusta,  dan hukuman denda bagi pelaku pelanggaran lalulintas.

Pertalian Sanksi

Jika dilihat dari pertalian hukuman antara satu dengan yang lain, sanksi terbagi menjadi empat, yaitu:

a. Sanksi pokok (Uqubah Ashliyah)

Yaitu sanksi yang diterapkan secara definitif dalam syariat. Hakim hanya menerapkan hukuman sesuai dengan syariat. Seperti hukuman potong tangan, qisas, jilid, dan lain sebagainya.

b. Sanksi Pengganti (Uqubah Badaliyah)

Yaitu hukuman pengganti yang menjadi alternatif dari hukuman pokok. Seperti diyat yang menjadi pengganti hukuman Qisas.

c. Sanksi tambahan (Uqubah Taba’iyah)

Yaitu hukuman yang menyertai hukuman pokok tanpa adanya putusan hakim. Seperti hilangnya hak persaksian bagi penuduh zina, dan hilangnya hak waris pembunuh yang telah membunuh si muwarris (si pemilik harta yang dapat mewariskan hartanya kepada si pembunuh tersebut).

d. Sanksi pelengkap (Uqubah Takmiliyah)

Yaitu hukuman tambahan yang menyertai hukuman pokok melalui putusan hakim. Misalnya mengalungkan tangan sipencuri yang telah dipotong ke lehernya.

Kewenangan Hakim

Jika dilihat dari kewenangan hakim yang memutuskan perkara, sanksi terbagi dua, yaitu:

a. Sanksi statis

Yaitu ketetapan pidana (sanksi) yang telah ditetapkan oleh nash (al-Qur’an / Hadits), yang tidak ada batasan tinggi dan rendahnya. Seperti hukuman pezina dengan 100 kali cambuk, dan sanksi penuduh zina dengan 80 kali cambuk.

b. Sanksi dinamis

Yaitu sanksi dimana hakim dapat menentukan pilihan, bisa berat bisa juga ringan, sesuai dengan realita yang dihadapi. Seperti sanksi ta’zir, yang mana hakim memiliki kewenanang mutlak.

Aspek Objek

Dari segi objeknya, hukuman dalam Islam dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Hukuman Jasmani: Seperti potong tangan, jilid, Qisas, Kerja sosial.
  2. Hukuman Benda: Seperti diyat dan penyitaan harta.
  3. Hukuman Psikologis: Seperti ancaman dan teguran.

______

Referensi:

Drs. Makhrus Munajat, M. Hum., Hukum Pidana Islam di Indonesia, Yogyakarta, Teras, 2009, hlm: 291-293.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.