Intisari Perbedaan Syariah dan Fiqih

  • Whatsapp

Banyak yang beranggapan bahwa syariah itu sama dengan fiqih, atau fiqih itu adalah syariah. Ternyata jika ditelusuri lebih lanjut, perbedaan syariah dan fiqih sangatlah kentara. 

Misalnya dalam keputusan hukum islam berbahasa Inggris, syariah islam diterjemahkan dengan Islamic Law (hukum islam), sedang fiqih islam diterjemahkan dengan Islamic Jurisprudence (Putusan hakim / ketetapan ahli fiqih).

Muat Lebih

Perbedaan Syariah dan Fiqih

Berdasarkan ilustrasi di atas, keduanya mulai terbuka. Adapun Intisari perbedaan syariah dan fiqih dapat anda simak berikut ini:

  • Syariah adalah hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits, sedang fiqih adalah hasil pemahaman terhadap al-Qur’an dan Hadits.
  • Syariah memiliki ruang lingkup yang lebih luas (Iman, Moral, dan perbuatan manusia), sedang ruang lingkup fiqih hanya berkisar pada aspek perbuatan manusia semata.
  • Syariah adalah ketetapan Allah dan Rasulnya, Sedang fiqih adalah ketetapan para fuqaha (manusia biasa), karenanya kerap terjadi perbedaan pendapat.
  • Syariah menunjukkan kesatuan hukum dalam islam, sedang fiqih menunjukkan keberagaman.
  • Syariah bersifat fundamental, karenanya bersifat abadi. Sedang fiqih bersifat instrumental, karena itu, fiqih dapat berubah.

Baca juga:
1. Inti Perbedaan Had, Qisas dan Ta’zir dalam Hukum Pidana Islam
2. Ruang Lingkup Hukum Islam Secara Global
3. Pengertian dan Macam-Macam Had dalam Islam
4. Dasar dan Tata Cara Hukuman Cambuk dalam Syariat Islam
5. Dasar dan Jenis Hukuman Penjara dalam Islam
6. Dasar, Tempat dan Durasi Hukuman Pengasingan dalam Islam
7. Daftar Lengkap Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Qur’an

Perbandingan Syariah dan Fiqih

Untuk mengetahui lebih detail bagaimana perbedaan syariah dan fiqih, perhatikan surat QS Al-Maidah ayat 6 berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” 

Ayat diatas menjelaskan tentang tatacara pelaksanaan wudhu dalam Islam. Mulai dari membasuh wajah, tangan hingga siku, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Ini semua disebut dengan syariah.

Adapun perbedaan ulama tentang mengusap kepala, ada yang berpandangan sebagian rambutnya di basuh (menurut imam Malik), atau cukup mengusap beberapa rambut (menurut imam Syafi’i), inilah yang disebut dengan fiqih.

Perhatikan juga hadits berikut:

حَدَّثَنَاسُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ ، حَدَّثَنَاشُعْبَةُ ، قَالَ : أناأَبُو عَوْنٍ ، عَنِالْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو ابْنِ أَخِي الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ ، عَنْأَصْحَابِ مُعَاذٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ ، عَنْمُعَاذٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ ، قَالَ لَهُ : ” كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عُرِضَ عَلَيْكَ قَضَاءٌ ؟ قَالَ : أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ ، قَالَ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ ؟ قَالَ : بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ؟ قَالَ : أَجْتَهِدُ رَأْيِي لا آلُو ” ، قَالَ : فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ ، وَقَالَ : ” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ ” .

Rasulullah SAW bertanya saat hendak mengutus muadz ke Yaman.

Rasul: Bagaimana anda memutuskan jika terdapat suatu persoalan?

Muadz: saya putuskan dengan apa yang ada dalam kitab Allah.

Rasul: bagaimana jika tidak ada dalam kitab Allah?

Muadz: saya putuskan dengan sunnah rasulnya (hadits)

Rasul: jika tidak ada dalam sunnah?

Muadz: maka saya berijtihad dengan pendapat saya.

Kemudian rasul menepuk dada muadz, seraya berkata: segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusannya utusan Allah terhadap apa yang Allah ridhoi kepada Rasul-Nya

Berdasarkan hadits di atas, pandangan Muadz untuk menetapkan kebijakan sesuai dengan ketentuan al-Qur’an dan Hadits, itulah yang disebut dengan syariah. Sedang pandangan Muadz tentang ijtihadnya secara pribadi jika tidak menemukan ketentuan al-Qur’an dan Hadits, inilah yang disebut dengan fiqih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.