Guru Indonesia, Fakta dan Realita

Guru Indonesia
Guru Indonesia – Penulis: Nasridawati

Menjadi guru Indonesia memang bukan cita-citaku sejak kecil. Cita-cita itu tumbuh dan semakin menguat takkala di akhir studiku aku melihat kenyataan betapa lemahnya system pendidikan kita saat ini. Indonesia. Anak-anak tak beralas kaki, ber-tas kantong plastik, seragam yang memudar warnanya, bukan lagi suguhan imajinatif dari para penulis novel, melainkan fakta nyata yang kulihat dengan mata kepalaku. Urusan transportasi jangan ditanya. Curamnya tanjakan dan becek tidak lantas menjadi hambatan bagi mereka. Cukup satu hal yang memuaskan mereka. Guru.

Menjadi Guru Indonesia

Maka aku pun membulatkan tekad menjadi guru Indonesia. Cukuplah hanya menjadi guru. Setidaknya aku paham kalau ujung tombak pemerintahan ada di tangan seorang guru. Tidak ada seorang Presiden pun yang mampu menggapai posisi itu tanpa bantuan seorang guru. Membangun atau merusak sebuah Negara juga ada di kendali seorang guru. Percaya atau tidak, guru yang membentuk pola karakteristik setiap anak.

Lalu bagaimana cerminan wajah guru Indonesia saat ini?? Dosenku pernah berkata, Oemar Bakri saat ini tidak lagi bersepeda melainkan bermobil. Semuanya berkat sertifikasi. Gaji guru dilipat double-double yang katanya demi kesejahteraan para guru. Tak apalah sepeda digantikan mobil, toh zaman sudah berubah. Tapi apakah tugas seorang guru juga berubah? Kalau dulu guru sibuk menenteng buku dan mistar, para guru masa kini sibuk menenteng laptop. Syukurlah, ini semua adalah kemajuan bukan? Teknologi masa kini dikedepankan, mesin ketik terpinggirkan.

Setiap hari aku menatap ruang-ruang kelas yang dipenuhi murid tanpa guru. Mereka bebas berkeliaran, membanting-banting meja dan kursi, saling memaki dan memukul.  Lalu kemana guru mereka?? Para guru ada. Mereka sama sekali tidak bolos, bisa dicek di absen hariannya. Tanda tangan mereka gagah di atas kertas. Hanya saja mereka sedang duduk manis di meja masing-masing menyusun perangkat pembelajaran. Setiap hari hanya menekur laptop, menekan huruf-huruf di keyboard laptop, online, download RPP, begadang sampai pagi demi memenuhi apa yang disebut dengan dokumen satu dan dokumen dua. Hanya itu. Bagi mereka itu cukup. Lalu bagaimana dengan siswa? Bagaimana dengan jam mengajar?

Kata mereka, persetan. Cukup beri mereka buku dan biarkan mereka mencatat. Entah apakah aku harus senang atau miris. Senang karena itu adalah metode praktis bagi kaum guru dalam mengerjakan tugasnya (dalam hal ini membuat murid tetap duduk manis selama jam pelajaran)  atau aku harus miris melihat bobroknya pendidikan. Diawali dari bobroknya aturan-aturan, menjalar kepada bobroknya mental guru, lalu turun lagi kepada bobroknya mental anak didik yang kemudian memantul kembali pada masa yang akan datang menjadi kebobrokan bangsa.  Tidak dipungkiri, mereka, anak-anak didik itu, akan menjadi penggerak bangsa di masa yang akan datang.

Kelamnya Guru Indonesia

Setiap hari banyak yang berkoar-koar tentang buruknya system pendidikan di Indonesia termasuk kurikulum yang makin ngaco. Dan diantara mereka yang berkicau itu, ada terselip seruan protes para guru Indonesia. Bukankah ini lucu mengingat mereka adalah salah aktor buruknya system pendidikan kita. Demi mengejar apa yang disebut sertifikasi, mereka mengabaikan tugas utama sebagai seorang pendidik. Masuk kelas tak lagi penting, yang menjadi Maha Penting adalah perangkat pembelajaran tersusun lengkap sehingga saat ada pengawas yang datang untuk supervise, mereka bisa terbebas dari teguran pengawas dan mendapat point yang baik. Semua atas nama sertifikasi.

Guru Indonesia berubah wajah dari pahlawan tanpa tanda jasa menjadi pekerja pengejar jasa. Saat kuajukan protes kepada batinku sendiri, aku mendengar kabar kalau ada kurikulum baru yang akan mengubah seluruh system pendidikan, kembali kepada kurikulum yang lama, kurikulum 1994. Kali ini aku tertawa, system yang para birokrat buat dengan remeh temeh yang membuyarkankan konsentrasi guru dan memecah haluan para guru kini akan kembali kepada system yang lama. Apakah ini bukti kemajuan teknologi tidak lagi menjamin kemajuan manusia dalam berpikir? Atau ini adalah jawaban bahwa system yang lama, yang dibuat oleh orang-orang yang hanya mengenal mesin ketik, jauh lebih ampuh dan diakui kualitasnya dibanding system manusia modern yang menenteng laptop, sebut saja kurikulum 2004 atau KTSP?

Sulit menemukan jawaban tentang itu. Cukuplah waktu yang akan menjawab. Bagi yang bernalar, persoalan kualitas adalah yang terpenting, tapi masih saja ada lembaga pendidikan yang mengutamakan kuantitas. Sebut saja SMP dengan dana BOS-nya. Dana yang diperoleh  besar jika siswanya banyak. Jika siswa kurang? Tentu dananya kecil. Lalu bagaimana selanjutnya??

Yang pasti tidak ada sekolah yang menginginkan mendapat dana yang sedikit, maka rekayasa nilai diperlukan. Demi mendapat kepercayaan orangtua, nilai ujian siswa di dongkrak habis-habisan, mulai dari nilai rapor hingga nilai ijasah. Penipuan dan pembodohan macam ini bukan tahun-tahun ini saja terjadi. tapi sudah mengakar sejak puluhan tahun silam.

Sekolah yang tidak berhasil meluluskan siswanya seratus persen dianggap gagal dan tidak memenuhi kualifikasi lembaga pendidikan. Sebaliknya, jumlah kelulusan tinggi menjadi daya tarik bagi para orang tua siswa menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Mereka hanya tidak tahu saja, rendahnya persentasi kelulusan itu berkat pengokohan kejujuran atas apa yang diyakini, dan tingginya persentasi kelulusan adalah buah dari pembodohan yang sengaja dirawat demi menghasilkan mental-mental rapuh yang tidak berkarakter. Tapi mereka malah menyebutnya “kurikulum berkarakter.” Karakter apa yang sebenarnya dibangun? Karakter pembohong, pecundang, penipu, pembangkang, atau karakter cacat mental lainnya?

Sungguh, realita pendidikan membuatku miris. Fakta hitamnya guru Indonesia yang membuat dadaku sesak. Seorang guru pernah berkata padaku, ketika tiga sektor penting terjangkit kapitalisme, maka hancurlah sebuah Negara. Ketiga sektor itu tidak lain adalah Departemen Agama, Departemen Kesehatan, dan Departemen Pendidikan. Dan ulat itu, sementara berjalan merambat, mengikis habis batang-batang di ketiga sektor utama itu. Dan diyakini, jika tidak ada yang bertindak sebagai pembasmi hama, maka tunggulah tahun-tahun kehancuran Negara ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.