Alasan dan Metode Penafsiran Hukum Secara Logis

  • Whatsapp

Alasan Penafsiran Hukum

Pentingnya penafsiran hukum tidak lepas dari realita, bahwa hal ini tidak dapat dihindari karena alasan-alasan berikut:

  • Hukum tertulis tidak mengikuti perkembangan masyarakat.

Nilai-nilai masyarakat terus mengalami perkembangan dan perubahan. Batasan nilai keadilan berikutnya belum tentu sesuai dengan nilai keadilan saat undang-undang dibuat.

Muat Lebih

Mengingat hukum tertulis bersifat kaku, sedang nilai-nilai masyarakat terus berkembang, maka untuk mengikuti perkembangan ini, diperlukan penafsiran hukum.

  • Saat hukum tertulis dibentuk, terdapat hal-hal yang tidak diatur karena luput dari perhatian para pembuat undang-undang.
  • Mengingat begitu banyaknya rumusan perundang-undangan, Keterangan yang menjelaskan arti dari istilah/kata yang dimuat dalam undang-undang tidak mungkin memuat seluruh istilah/kata dalam pasal-pasal perundang-undangan yang ada.
  • Rumusan perundang-undangan dibuat secara singkat dan bersifat umum, sehingga maksud dan artinya kurang jelas dan tidak spesifik. Untuk memahami kandungan undang-undang tersebut diperlukan penafsiran.

Baca juga:

Metode Penafsiran Hukum

Ada beberapa metode penafsiran hukum, dan ini biasa dilakukan oleh hakim. Metode tersebut diantaranya adalah:

1. Penafsiran otentik

Yaitu penafsiran resmi, dimana arti dari istilah-istilah yang diperlukan sudah ada dalam undang-undang itu sendiri. Di sini hakim tinggal mengikutinya, tanpa penafsiran lain.

Contoh, arti “malam”  yang didefinikan undang-undang dalam Pasal 98 KUHP adalah “waktu antara matahari terbenam dan matahari terbit”.

2. Penafsiran Historis

Yaitu penafsiran norma yang terkandung dalam undang-undang didasarkan pada sejarah ketika undang-undang tersebut dibuat.

Pengertian dari Istilah-istilah dalam undang-undang tersebut dilakukan dengan meneliti atau mempelajari pendapat-pendapat anggota parlemen dalam merumuskannya.

Metode penelitiannya bisa dengan melihat rancangan undang-undang, melihat video, rekaman, atau tulisan yang memuat pembicaraan, perdebatan, dan jawaban-jawaban anggota parlemen.

3. Penafsiran Sistematis

Yaitu cara untuk mencari pengertian suatu norma melalui rumusan undang-undang, dengan melihat hubungan antara bagian atau rumusan yang satu dengan yang lain.

4. Penafsiran Logis

Yaitu penafsiran yang dilakukan untuk mencari maksud sebenarnya mengapa undang-undang itu dibuat, dengan didasarkan pada pengertian yang wajar menurut logika umum.

5. Penafsiran Gramatikal

Yaitu metode penafsiran melalui pendekatan tatabahasa yang ada pada rumusan undang-undang. Sehingga dalam memahami undang-undang, tanda baca, diksi, dan pola susunan kalimat yang sedemikian rupa benar-benar diperhatikan.

6. Penafsiran Teleologis

Adalah penafsiran terhadap norma undang-undang berdasarkan maksud si pembuat undang-undang tersebut.

________

Referensi:

Drs. Adami Chazawi, S.H., Pelajaran Hukum Pidana Bagian 2, Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2016, hlm: 1-10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.